benbens


Fanfictions Gallery

Welcome & enjoy here


Previous Entry Share Next Entry
Fanboy ('Love Letter' sequel)
shiraiko wrote in benbens
Pairing: KaiSoo
Genre: Crack, romance, fanboy!AU, model!AU, NC (in the end......a bit)
Summary: Kyungsoo bukanlah seorang fanboy. Hingga ia melihat seorang Kai (tidak--Kim Jongin).


[Dan Kyungsoo merasa sedang melayang di galaksi Andromeda, dengan sebuah kata yang mengisi penuh otaknya. Perfection.]            Do Kyungsoo bukan seorang fanboy. Ia tidak pernah benar-benar mengagumi sesuatu atau seseorang. Ia selalu berusaha untuk berpikir secara objektif: bahwa semua orang, terkenal atau tidak, good-looking atau tidak, tetap tidak sempurna dan tidak seharusnya benar-benar dikagumi. Lagipula, tidak ada manusia sempurna di dunia ini, benar kan?
       Well, tidak juga.
       Adalah kesalahannya saat suatu hari ia memutuskan untuk menemani Tao dan Baekhyun datang menonton sebuah runway avenue di pusat kota. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menurut saja saat diajak oleh kedua diva di angkatan mereka itu; Do Kyungsoo sama sekali bukan penggemar para manusia yang berlenggak lenggok di catwalk. Apa yang menarik dari menggemari orang-orang berwajah angkuh itu?
       “Mereka tidak berwajah angkuh,” protes Tao saat Kyungsoo menyuarakan pendapatnya—berusaha mengeraskan suaranya diantara suara dentuman musik di gedung itu, “mereka model. Maksudku, kau tidak mungkin memamerkan salah satu produk keluaran label terkenal dengan wajah seakan-akan kau adalah seorang bocah yang baru mendapat mainan baru, bukan?”
       “Atau permen.”
       “Whatever, Bacon.”
       Kyungsoo menyerah. Diam-diam ia menyelinap keluar dari kerumunan dan memilih untuk menonton dari jarak jauh. Seorang model pria dengan wajah bitchface, kaki jenjang dan tubuh tinggi menjulang terlihat sedang berjalan di catwalk dengan setelan Armani mewah. Kyungsoo mengenali orang itu; namanya Wufan—atau biasa dipanggil Kris, entahlah—ia adalah kakak kelasnya, Tao, dan Baekhyun di sekolah. Tanpa harus diperjelas, Tao dan Baekhyun adalah penggemar Kris (atau Tao saja, untuk lebih spesifiknya). Dan, diantara semua itu, Kyungsoo masih tidak mengerti bagian mana dari runway dan model yang sukses membuat kedua sahabatnya itu jatuh hati.
       Hingga seseorang yang muncul setelah Kris di catwalk menarik perhatiannya.
       Pemuda yang satu ini tidak memasang ekspresi seakan ia adalah penguasa jagat raya, seperti sebagian besar model lainnya—malah, wajahnya sarat akan ekspresi menggoda, seakan ia mengundang setiap hadirin disana untuk menghabiskan malam bersamanya. Kulitnya berwarna tan, membuat penampilannya terlihat makin seksi, dengan tubuh rampingnya yang dibalut tuksedo-entah-apa-namanya. Jalannya teratur namun luwes. Tatapannya lurus ke depan, lalu tepat menghantam Kyungsoo, yang memang entah sejak kapan sudah berada di depan panggung, matanya yang besar tidak berkedip saat ia melihat model tersebut. Ketika model itu selesai, matanya dan mata Kyungsoo bertemu untuk sepersekian detik. Dan pemuda itu memberinya smirk yang mematikan.
       Dan Kyungsoo merasa sedang melayang di galaksi Andromeda, dengan sebuah kata yang mengisi penuh otaknya.
Perfection.

--------------------------------------------------------------

       “Kau fanboy!” Pekik Baekhyun, “kau jelas telah menjadi seorang fanboy!”
       “Aku bukan!” Kyungsoo menggelengkan kepalanya keras-keras, “atau, setidaknya, kupikir bukan.”
       Junmyeon mendongak sedikit dari buku yang sedang dibacanya, berkata, “ya, seseorang yang langsung menjerit ‘astaga, demi celana pendek TTS Baekhyun, ia tampan sekali!’ setelah melihat seorang model runway dan langsung menghabiskan setidaknya tiga jam untuk mendeskripsikan kesan pertamanya, jelas bukanlah penggemar.”
       “Sangat membantu, hyung,” dengus Kyungsoo, mengabaikan protes dari Baekhyun mengenai “apa maksudmu, celana pendek TTS-ku?!” dan “itu rahasia pribadi, kita sudah sepakat mengenai itu!” serta “astaga, Taeyeon-noona tidak boleh mendengar hal tadi—tunggu, SEJAK KAPAN IA BERADA DISINI?!?!”, “kau bahkan tidak berada disana.”
       “Oh, aku punya mata tambahan,” Junmyeon mengedip pada Lay, kekasihnya—ya, demi lesung pipi Junmyeon, kekasihnya—yang hanya tertawa kecil, “perlukah kuberi info tambahan bahwa Kai, model yang kaukagumi itu, adalah adik kelasmu yang bernama Kim Jongin? Ia juga berada di klub dance yang sama dengan Yixing, siapa tahu kau ingin menitipkan salam.”
       “Aku tahu soal itu, trims hyung, dan tidak, terimakasih, aku tidak akan menitipkan salam. Aku hanya berkata bahwa ia tampan, dan itu saja.”

----------------------------------------------

       Ternyata bukan itu saja.
       “ASTAGA!! AKU MENEMUKANNYA!! ZITAO-PANDA-WUSHU, LIHAT, AKU MENEMUKANNYA!!”
       “Apa masalahmu, Kyungsoo?!” Gerutu Tao, melirik jam digital di sebelah tempat tidurnya; 6.34 a:m. “Kau bercanda? Ini akhir pekan dan kau membangunkanku dibawah jam sepuluh pagi?”
       Kyungsoo mengacuhkan ‘ucapan-selamat-pagi-yang-tidak-dianjurkan’ itu dan tetap memfokuskan pandangannya pada layar ponselnya, matanya berbinar. “Aku menemukannya! Astaga, Jongdae-hyung, Shisus memberkatimu!”
       “Kau bahkan berkata ‘Shisus’... Benar-benar ada yang tidak beres,” Tao bergumam sambil dengan malas beranjak dari tempat tidur dan langsung mengambil ponsel Kyungsoo, mengeceknya.
       Kurang dari satu menit kemudian, ia juga ikut memekik.
       “DEMI KRISUS, KENAPA KAU BISA LANGSUNG MENEMUKAN AKUN TWITTER MILIK KAI SEMENTARA AKU BAHKAN MASIH BELUM BISA MENEMUKAN AKUN MILIK WUFAN-GE SELAMA HAMPIR SETAHUN INI?!?!”
       “Aku diberkati,” jawab Kyungsoo asal sambil berusaha meraih kembali ponselnya dari tangan Tao; bukan hal yang mudah, mengingat perbedaan tinggi mereka yang agak signifikan, “kembalikan, aku harus mem-follow-nya dan berinteraksi dengannya dan barangkali mengajaknya untuk bertemu dan—apa?,” Tao memberinya tatapan menuduh, “kau juga seperti ini saat pertama kali melihat Kris-hyung. Ngomong-ngomong, lihat, ia tampan kan?”
       “Jika maksudmu Kai, tidak. Jika maksudmu Wufan-ge, tidak juga, he’s awesome.”
       “Terserah apa maumu. Jadi, ponselku, please?”

--------------------------------------------------------------

       Bagaimanapun, Kyungsoo tidak perlu bersusah payah untuk mem-follow akun milik Kai dan mengajaknya berkenalan di dunia maya, karena beberapa hari setelah itu, ia langsung berhadapan dengan pemuda itu di sekolah.
       Hari Senin berlalu dengan lambat, seperti biasa. Kyungsoo, seperti biasa pula, berniat untuk menghabiskan jam makan siangnya di kantin. Sendirian, tentu saja; Baekhyun selalu pergi dengan Chanyeol dan Tao menghabiskan (membuang barangkali lebih tepat) waktunya di lorong kelas XII, berusaha mengajak Kris untuk makan siang bersama (dan berakhir dengan cukup sukses, karena mereka memang makan siang bersama—dengan teman-teman Kris di sekeliling mereka). Sambil membawa sekotak kimchi sphagetti buatannya sendiri, Kyungsoo setengah berlari menuju ke kantin dan tidak menyadari ada seseorang yang sedang keluar dari ruang klub dance tepat di depannya. Alhasil Kyungsoo sukses menabrak dan menumpahkan spaghetti-nya di baju orang itu—dan membuatnya terjengkang ke lantai. Raut muka Kyungsoo perlahan berubah menjadi horor saat ia menyadari siapa yang baru saja ditabraknya.
       Kai—tidak, Kim Jongin.
       Lambat-lambat, Jongin menatap baju seragamnya dan wajah ngeri Kyungsoo secara bergantian.
       “Kau—“
       “Astaga, Kai—maksudku, Jongin-a—maaf, aku tidak sengaja!,” ujar Kyungsoo gugup sambil membungkukkan badannya dalam-dalam; ia tahu Jongin adalah hoobae-nya, tapi tetap saja ia melihat pemuda itu sebagai Kai, idolanya, “aku tidak melihatmu dan barangkali aku memang terlalu ceroboh, biarkan aku membersihkan bajumu, kau bisa memakai seragam milikku sekarang atau menghukumku atau apapun asal—“
       “’Asal’?” Jongin tertawa. Kyungsoo menatapnya tidak percaya—dan kagum, astaga, “sudahlah, aku tidak apa-apa. Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah membuat makan siangmu berantakan, Kyungsoo-hyung.”
       “... Tunggu. Kau mengenalku?”
       “Aku tahu kau, hyung,” ralat Jongin sambil berdiri dan membersihkan bajunya seadanya; dan, tentu saja, Kyungsoo harus sedikit mendongak ke atas untuk bertatapan mata dengan Jongin, “kau teman Jongdae-hyung dari klub vokal, kan? Ia pernah menceritakan beberapa hal tentangmu. Ngomong-ngomong, aku benar-benar minta maaf karena telah membuat makan siangmu berantakan. Makanan apa ini?”
       “Eh,” dengan susah payah Kyungsoo menjawab, “err, itu, kau tahu, spaghetti. Yah, kimchi spaghetti. Semacam itulah.”
       Mulut Jongin membentuk huruf ‘O’ dengan ekspresi terkesan. “Kimchi spaghetti? Wah, baru pertama aku mendengar hal seperti itu. Kau beli dimana? Atau ibumu yang membuatkanmu makanan itu?”
       “A-aku-aku membuatnya sendiri, sebenarnya.”
       “Astaga, benarkah? Aku jadi ingin mencicipinya. Hyung, kau harus membuatkannya untukku suatu hari nanti!”
       “Eh, oke—ah, Jongin-a, tunggu!,” Kyungsoo menyahut saat Jongin hendak pergi, “bagaimana dengan bajumu?”
       “Oh, ini?,” Jongin mengibaskan tangannya santai, “sudahlah, hyung, ini hanya noda kecil. Lagipula aku membawa baju olahraga. Hei, hyung, bagaimana kalau kita makan siang bersama sepulang sekolah nanti? Kutunggu di gerbang sekolah, bye hyung!”

--------------------------------------------------------------------------

       Minggu demi minggu berlalu dan Kyungsoo tidak pernah menghabiskan waktu makan siangnya sendirian lagi.
       Kai—tidak, bukan; Jongin—adalah orang yang hangat, sangat berbeda dibanding penampilannya saat sedang berada diatas panggung. Dengan senang hati ia selalu menemani Kyungsoo makan siang di kantin setelah kejadian kimchi spaghetti itu, bahkan tanpa diminta oleh Kyungsoo (dan ia memang sudah mengharapkan hal ini sejak lama). Jongin menyukai kimchi spaghetti a la Kyungsoo dan senang menceritakan semua hal tentang dirinya—kisah masa kecilnya yang memalukan, sahabat karibnya; Oh Sehun, kisahnya sebagai Kai sang model dan dancer profesional—dan ia selalu ingin tahu mengenai Kyungsoo; hobinya, tanggal lahirnya (yang ternyata hanya berbeda dua hari dari ulang tahun Jongin), masakan favoritnya, dan semua hal kecil lainnya. Kyungsoo pun menemukan dirinya menceritakan segalanya tanpa hambatan kepada Jongin. Ia selalu menonton setiap pertunjukan Kai—baik runway, dance, apapun. Dan ia menemukan fakta bahwa ia mengagumi Kai dan menyukai—menyayangi, mencintai, sejenis itulah—Kim Jongin. Ia kini memasuki tahap dimana ia tidak melihat Kai—dan Jongin—sebagai idola, tapi sebagai seseorang yang mengisi hatinya.
       Dan hubungan mereka mulai masuk ke tahap ‘rumit-dan-tanpa-nama’.
       Januari berlalu dengan lambat dan bersalju; sisa musim dingin bulan Desember masih menempel di sekitar mereka. Kyungsoo memegang secangkir kopi hangat di antara kedua telapak tangannya yang terasa kebas; sudah hampir pukul enam sore dan Jongin masih belum terlihat batang hidungnya. Lilin-lilin yang menancap di atas sebuah kue tart di mejanya mulai meleleh. Mereka memutuskan untuk bertemu di kafe milik Chanyeol, kekasih Baekhyun, pada tanggal 13 Januari—hari ini—pukul lima tepat, dalam rangka untuk merayakan ulang tahun mereka. Jongin dan Kyungsoo sepakat bahwa mereka akan selalu merayakan hari lahir mereka pada tanggal 13, sehari setelah ulang tahun Kyungsoo dan sehari sebelum ulang tahun Jongin. “Agar lebih romantis,” jelas Jongin saat Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. Penjelasan singkat itu berakhir dengan tawa berkepanjangan (termasuk kelitikan, pelukan, dan segala oh-tentu-kau-pasti-tahu-apa)
       Pukul 6.58 sore. Kyungsoo melirik ke luar kafe; tidak ada tanda-tanda kehadiran Jongin. Ia menghela napas panjang, agak kesal; ia paling tidak suka menunggu dan Jongin tahu itu. Dan ia tahu, hari ini Jongin ada kegiatan photoshoot hingga pukul empat, tidak seharusnya ia belum tiba hingga sekarang. Jongin tidak pernah mengecewakannya sebelum ini.
       “Butuh sedikit penghangat lagi, Kyungsoo?” Suara yang berat memecah lamunan Kyungsoo. Ia menoleh dan mendapati Chanyeol dengan senyumnya yang tak pernah menghilang. Ia menggeleng pelan. “Tidak, Chanyeol, terimakasih. Sepertinya aku akan pulang saja. Aku akan membayar setelah ini, oke?”
       “Hei, jangan terburu-buru,” ujar Chanyeol, “kau tidak pernah terburu-buru seperti ini di kafeku biasanya. Dan kau hendak meninggalkan kue ini. Ada apa? Ingin berbagi sedikit cerita denganku?”
       “Tidak, tidak ada apa-apa,” Kyungsoo berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikannya pada Chanyeol, “aku hanya menunggu seseorang dan sepertinya ia tidak akan datang. Ini, ambil saja kembaliannya. Dan kau bisa menyimpan kue itu untuk perayaan hari jadimu dengan Baekhyun besok. Terimakasih banyak, Chanyeol. Titipkan salamku pada Baekhyun.”
       Kali ini pikiran Kyungsoo dipenuhi berbagai pertanyaan dan pikiran negatif. Kenapa Jongin tidak datang? Bukankah ia yang merencanakan acara kecil ini? Apa dia terlalu sibuk? Bahkan ia menonaktifkan ponselnya, atau ia sedang bersama dengan orang lain? Mungkin ia sedang menghabiskan detik-detik menjelang ulang tahunnya dengan orang yang lebih menyenangkan dibandingkan aku. Sambil mendengus kesal, refleks ia menendang sebuah kaleng minuman bekas yang ada disana......dan tepat mengenai kepala seseorang. Ia nyaris meminta maaf saat melihat korbannya adalah Jongin—ia sedang bersama dengan beberapa temannya dan tampak terkejut saat melihat Kyungsoo berdiri disana, dengan mata bundarnya yang agak berkaca-kaca.
       “Kyungsoo,” Jongin berkata pelan. Ia mengeraskan suaranya sedikit saat Kyungsoo memutuskan untuk berbalik dan berjalan membelakanginya, “hyung, tunggu! Kenapa kau pergi? Kyungsoo-hyung!”
       “Apa lagi sekarang?!” Bentak Kyungsoo saat Jongin meraih pergelangan tangannya, yang langsung ia tepis. Ia melanjutkan, masih membelakangi Jongin, “oh, mungkin kau baru ingat mengenai acara kecil kita setelah aku menendang kaleng itu ke arah kepalamu?”
       “Tidak, tunggu, hyung, kau tidak mengerti—hyung!” Jongin menahan bahu Kyungsoo dan memaksanya berbalik. “Dengarkan aku—“
       “Kau tahu aku benci menunggu,” suara Kyungsoo rendah dan bergetar; ia merasakan tatapan beberapa orang di sekitar mereka, tapi ia tidak peduli, “kau tahu, dan kau membuatku menunggu? Tidakkah kau berpikir seberapa berartinya acara ini bagiku? Atau barangkali selama ini kau hanya melihatku sebagai satu dari sekian lucky fans-mu, yang cukup diberi fanservice olehmu?”
       “Apa maksudmu berkata seperti itu?” Suara Jongin meninggi. Ia paling tidak bisa menahan emosinya. “Kenapa kau jadi naif begini, hyung? Aku hanya terlambat karena hendak mengambil pesanan barangku dan ponselku sedang rusak. Dan kau marah karena kau mengira aku melupakan acara kita?”
       “Oh, itu memang hanya,” dengus Kyungsoo, “biar kuperjelas apa yang barangkali kaupikir ‘hanya’. Kaupikir aku hanya mengagumimu, hm? Ya, aku mengagumi Kai, tapi aku juga mencintaimu, Kim Jongin! Aku menyimpanmu di dalam hatiku selama ini dan kau hanya menganggapku sebagai salah satu penggemarmu?”
       Hening. Kyungsoo berusaha mengatur napas dan emosinya, sementara Jongin menatapnya tidak percaya. Ya, Kyungsoo tahu ia telah mengatakan semua hal yang selama ini ia sembunyikan, tapi ia tidak mungkin menarik kata-katanya kembali. Toh cepat atau lambat Jongin harus tahu kalau hubungan-tanpa-status mereka cukup menyiksa Kyungsoo.
       “Hyung, aku—“
       “Lupakan,” gumam Kyungsoo, hendak berbalik lagi, “anggap saja perkataanku tadi tidak pernah ada. Dan kau bisa melewatkan waktu ulang tahunmu yang berharga dengan teman-temanmu yang terkenal, tanpa seseorang-bukan-kekasih yang kaku dan posesif dan—,” perkataannya terputus saat Jongin mengerang frustasi dan langsung mencium bibir Kyungsoo, singkat, tanpa paksaan. Setelah itu, ia menatap mata Kyungsoo yang melebar kaget.
       “Hyung, kumohon, dengarkan aku,” ujarnya serius, “aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, tapi—please, percayalah padaku. Bukan hanya dirimu yang menjadi penggemar. Aku juga mengagumimu, sejak lama, bahkan sebelum kita benar-benar bertemu. Tanpa kejadian spaghetti itu, tidak mungkin aku dapat dekat denganmu. Dan aku mencintaimu. Kaupikir surat yang kutulis untukmu saat pelajaran Bahasa Inggris itu hanya lelucon? Itu bukan hanya secarik kertas penuh tulisan, hyung. Aku tahu aku tidak pandai merangkai kata-kata, tapi semua yang ada di dalam surat itu memang nyata. Kim Jongin mencintai Do Kyungsoo dan ingin menjadikannya sebagai kekasihnya.”
       Kyungsoo masih menahan napasnya. “Jongin—“
       “Sudah, lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain.”
       “T-tapi.....teman-temanmu—?”
       “Tidak usah dipikirkan. Ayo kita ke apartemenku dan biarkan aku menjelaskan semuanya.”

------------------------------------------------------------------------
       “Jadi,” Sehun menatap lekat Jongin dan Kyungsoo, yang sibuk mengancingkan kemejanya dengan gugup, “kalian thudah, err, memiliki hubungan rethmi, begitu?”
       “Bisa dibilang begitu,” Jongin mengedikkan bahunya sedikit, “jadi, kau kesini untuk mengucapkan ‘selamat’ pada sahabatmu ini?”
       Sehun memutar kedua bola matanya. “Thebenarnya tidak. Aku kemari untuk mengambil ponthelku yang tertinggal dan thaat aku mathuk, aku mendengar beberapa thuara dan—,” ia terbatuk kecil, “dan, yah, aku bertemu—melihat—kalian, dan—uh, thelamat, kau thudah mendapatkan hadiah ulang tahun yang terbaik, barangkali.” Ia melirik Kyungsoo, yang masih tertunduk malu, dan akhirnya tertawa. “Jangan begitu, hyung, thejujurnya aku tidak terlalu terkejut. Jika kau adalah kekathih Kim Jongin, itulah yang akan kaudapatkan pertama kali.”
       “Wow, kau benar-benar mengenalku,” sindir Jongin. Ia merangkul bahu Kyungsoo dan melirik jam dinding yang ada di ruangan itu, “haruskah aku menghitung mundur menuju tanggal 14?”
       “Tidak perlu, bodoh, ini thudah tanggal 14,” Sehun kembali memandang Kyungsoo, “tidak ingin jadi yang pertama mengucapkan ‘thelamat ulang tahun’, hyung?”
       Kyungsoo membersihkan tenggorokannya sedikit, lalu menatap Jongin dan berkata, “saengil chukhahamnida, my idol Kai, nae sarang Kim Jongin.”
       Jongin mendaratkan kecupan kecil di puncak kepala Kyungsoo. “Aku mencintaimu.”
       “Ugh,” Sehun mengerutkan keningnya, “mathuk thaja ke kamar dan lanjutkan aktivitath kalian. Aku mathih dibawah umur.”

Comments Disabled:

Comments have been disabled for this post.

?

Log in

No account? Create an account