benbens


Fanfictions Gallery

Welcome & enjoy here


Previous Entry Share Next Entry
In Which Park Chanyeol is Normal (Perhaps)
shiraiko wrote in benbens
Pairing: BaekYeol (slight TaoRis)
Genre: crack, romance, school!AU 
Summary: Park Chanyeol dan Byun Baekhyun adalah duo biang onar. Park Chanyeol idiot dan (sepertinya) normal. Kris tidak percaya. Kris dan Jongin adalah evil. Maka mereka berkonspirasi.


[Perasaan Chanyeol tidak enak. Ia bisa merasakan konspirasi di kelas ini.]   Byun Baekhyun dan Park Chanyeol. Seantero sekolah sudah tahu betul siapa mereka. Duo biang onar dari kelas IPA—ya, IPA—melebihi para biang onar di kelas IPS (kecuali seseorang bernama Kim Jongdae, biang onar dari segala biang onar, yang di-drop out semester yang lalu). Mereka sudah bersahabat sejak SMP, walau dulu mereka tidak senakal ini. Bagaimanapun, faktanya, Baekhyun adalah ketua kelas, sedangkan Chanyeol merupakan anak paling jenius—bukan pintar; jenius—di bidang matematika. Mereka berasal dari kelas yang sama, selalu sama sejak SMP. Dan sebenarnya mereka anak yang baik.
       Barangkali.
       “Tapi aku tidak melakukan apa-apa waktu itu,” suatu hari, Chanyeol berkata dengan mata yang melebar dan ekspresi tidak-percayanya, dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya dengan wajah-wajah penasaran, “aku hanya menyapa Lee-seonsaeng dengan ‘a-yo whaddup dude? Have a fucking great day nigga’ dan ia langsung menyeretku ke ruang Konseling dan memberiku skors 3 hari.  Maksudku, apa salahku? Aku hanya menyapanya dalam bahasa Inggris yang pernah Kris ajarkan padaku beberapa hari yang lalu. Benar, kan? Kris? Ben Ben?”
       “Jangan libatkan aku, you little dumb piece of shit.”
       Mungkin mereka hanya agak kurang mengerti.
       “Baiklah, anak-anak, hari ini kita akan bermain games,” ujar Kwon-seonsaeng di kelas bahasa Inggris, “ada 4 kelompok disini dan kelompok pertama yang paling cepat mengacungkan tangan dengan jawaban benar akan mendapat hadiah. Hands off, kids. Hands. Off. Byun. Baekhyun,” ujarnya tajam pada Baekhyun, yang sudah mengacungkan tangannya di udara, “turunkan tanganmu. Akan kubacakan pertanyaan pertama. The similar meanings of ‘abandoned’ is—? Uh, okay, Baekhyun?”
       Baekhyun, yang pertama mengacungkan tangan (lagi—tentu, karena tangannya sudah berada dalam posisi siap di depan wajahnya bahkan sebelum Kwon-seonsaeng membacakan pertanyaan) menjawab dengan riang dan pasti, “jawabannya... Tanyakan Kris, seonsaeng!”
       Dan, sekali lagi, Kris menjadi korban ulah Baekhyun dan Chanyeol. Ia hanya bisa menempelkan telapak tangan ke wajahnya sementara Kwon-seonsaeng mengamuk. “Byun Baekhyun, acungkan tanganmu hanya jika kau tahu jawabannya!”
       “Tapi bukannya kaubilang, yang mengacungkan tangannya paling cepat yang akan mendapat hadiah?” Tanya Baekhyun polos.
       Mungkin tidak juga.
       “Kenapa,” gerutu Kris saat ia, Baekhyun dan Chanyeol menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin, tepatnya di daerah kekuasaan mereka—ya, Kris terlibat dalam semua aksi duo biang onar itu, tapi ia selalu bisa menutupinya dengan ketampanannya dan sikapnya yang (terlihat) tenang dan prestasinya. Lagipula, tidak mungkin seorang anak baru dari Guangzhou dan blasteran Chinese-Canadian langsung bergabung dengan para penghancur sekolah—atau setidaknya itulah yang awalnya dipikirkan para siswa sekolah itu, “aku harus selalu berurusan dengan guru gara-gara kalian?”
       “Karena kau menawan,” ujar Chanyeol asal, sambil memakan ramyun-nya dengan lahap, “lagipula kau selalu lolos dari hukuman guru, bukan? Maksudku, siapa sih yang tega menghukum seorang siswa rupawan dengan tinggi 190 cm yang bernama Wu Yifan a.k.a Kris?”
       “A.k.a Ben Ben.”
       Kris mendengus kecil. “Kau bahkan tidak tahu artinya, Baek.”
       “Aku tahu. Itu berarti ‘bodoh’, bukan?,” Baekhyun nyengir, “jangan remehkan kolaborasiku dengan Google Translate.”
       “... It made no sense at all.”
       “Ah sudahlah, aku tidak pernah mengerti apa yang kaubicarakan.”
       “Tapi ada satu hal yang selalu kupertanyakan sejak awal kita bertemu,” mata Kris menatap Baekhyun, lalu Chanyeol, lalu mereka berdua, “kalian sudah bersama sejak SMP, bukan?”
       “Yap,” jawab mereka bersamaan.
       “Apa kalian normal?”
       Kening Chanyeol berkerut. “Maksudmu?”
       “Kau tahu,” Kris membuat abstraksi di udara—lucu juga karena sebenarnya ia tidak bisa menggambar, “pria. Bertemu seseorang. Lalu mereka menyukai satu sama lain dan,” kali ini ia menggambar hati di udara, “bam. Kalian mempunyai hubungan khusus.”
       “Tidak, aku tahu maksudmu soal itu, tapi normal?”
       “Oh ayolah. Are you into girl or boy?”
       Baekhyun tersedak oleh minumannya, sementara Chanyeol menunjukkan ekspresi idiotnya.
       “Kau tidak serius, Ben Ben.”
       “Aku bukan Ben Ben. Dan aku serius. Dan, melihat reaksi kalian, sepertinya hipotesisku benar.”
       Setelah selesai dengan batuknya, Baekhyun bertanya, “h-hipotesis apa?”
       Kris tersenyum kecil penuh arti—Kris tidak pernah tersenyum kecuali ada suatu hal yang menarik baginya, “kalian tidak normal? Atau sedang menuju ketidaknormalan?”
       Chanyeol menggeleng keras. “Apa itu? Kami—aku—normal.” Tapi Kris dapat mendeteksi perubahan dari intonasi Chanyeol dan ekspresi Baekhyun.
       Ia tersenyum makin lebar.


-------------------------------------------------------------------


       Park Chanyeol tidak pernah benar-benar menyukai seseorang.
       Dalam percintaan, maksudnya. Ia pernah bergonta-ganti pacar (perempuan, jika harus diperjelas) berkali-kali dan selalu berakhir karena ia tidak pernah merasakan lebih dari suka terhadap para gadis itu. Bahkan setelah mereka melakukan hal yang lebih, ia tetap tidak mendapat perubahan dalam perasaannya.
       Sebaliknya, ia justru merasakan hal itu pada sahabatnya sendiri. Byun Baekhyun.
       Ia sendiri tidak yakin, tapi setiap ia bersama Baekhyun, baik dalam kelompok, atau ketika menjahili guru, atau saat dihukum, saat menghabiskan waktu bersama, ia selalu merasa nyaman. Bukan nyaman yang biasa ia rasakan dengan orang lain; tapi nyaman dalam artian sesungguhnya. Ia tidak bisa diam dan Baekhyun senang berbicara, jadi mereka cocok satu sama lain.
       Apakah itu tidak normal?
       Dan entah kenapa, hati Chanyeol selalu berdebar kencang jika ia melihat Baekhyun akhir-akhir ini. Melihat wajahnya, matanya, senyumnya, jemari lentiknya—dan segala hal lainnya yang mungkin tidak perlu disebutkan.
       Apakah itu normal?


------------------------------------------------------------
       Suatu pagi yang tenang—tidak juga.
       “Apa ini?!,” pekik seorang pemuda kecil bermata besar dengan mata terbelalak—dan membuat ukuran matanya terlihat dua kali lebih besar daripada orang terbelalak lainnya—kepada pemuda berkulit tan dengan sebuah gaun putih di tangannya, “kau tidak serius, Kim Jongin, aku tidak akan memakai pakaian itu untuk alasan apapun!”
       “Ayolah, Kyungsoo, ini hanya untuk drama kita!”
       “Kalau aku harus menggunakan baju itu, lebih baik jangan libatkan aku dalam drama!”
       “Tidak masalah, tapi kau tidak akan mendapat nilai bahasa jika kau tidak bermain dalam drama,” entah sejak kapan Kris ada disana, menengahi Kyungsoo yang mengamuk dan Jongin yang kebingungan, “aku hanya bertindak sebagai ketua kelompok yang baik disini untuk mengingatkanmu. Jika kau keberatan, ya sudah, kita tidak perlu mengadakan peran ibu peri dalam drama ini. Jadi, masih keberatan? Atau haruskah Jongin yang memakai gaun itu?”
       “Oh, tidak, tidak, trims,” Jongin langsung meletakkan gaun itu di meja dan mengangkat tangannya, “aku terlalu manly untuk baju malang itu.”
       Kris kembali menatap Kyungsoo, “jadi?”
       Kyungsoo jelas hendak berkata ‘tidak’ lagi, jika saja pandangan Kris tidak terlalu mengancam. “Baik,” ia menghela napas, menyerah, “terserah. Aku akan memakai gaun itu dan tidak akan masuk sekolah selama satu minggu ke depan.”
       Tiba-tiba Baekhyun dan Chanyeol hadir diantara mereka. “Hai,” Chanyeol tersenyum lebar, “apa yang kami lewatkan disini?”
       Kris mengangkat sebelah alisnya. “Banyak,” katanya, “dan kenapa kalian mendadak muncul disini? Kalian tidak satu kelompok dengan kami, bukan?”
       “Aww, kejam sekali, Ben Ben, kami hanya ingin tahu kenapa kalian ribut-ribut di pagi yang indah ini,” pandangan mata Baekhyun menangkap gaun putih yang tergeletak diatas meja Jongin, “hei, gaun siapa ini? Milikmu, Jongin?”
       “Tentu saja bukan,” dengus Jongin, “itu milik Soojung. Aku meminjamnya untuk keperluan drama kelompokku—untuk Kyungsoo, lebih tepatnya.”
       Baekhyun mengambil gaun itu. “Tapi gaun ini bagus sekali,” katanya. Chanyeol menahan tawanya. “Jangan bilang kau menyukai gaun itu, Baek.”
       “Yah, aku memang menyukainya.”
       Sementara itu, Kris, yang memperhatikan mereka, mendadak mempunyai ide cemerlang.
       “Baek,” ujarnya pada Baekhyun, “pakai gaun itu.”
       Mata Baekhyun melebar. “Eh?”
       “Pakai saja,” Kris mendorong Baekhyun, yang masih membawa gaun itu di tangannya, menuju ke bagian belakang kelas, “pakai saja diluar baju seragammu. Kau sudah terbiasa dengan permainan kostum, kan? Maksudku, itu kebiasaanmu. Kau akan terlihat cantik dan menarik,” ia dengan sengaja melirik Chanyeol, yang wajahnya langsung pias, “percayalah padaku.”
       Maka Baekhyun, dengan tidak menyadari perubahan ekspresi Chanyeol, langsung pergi ke belakang kelas dengan ceria, seperti biasa. Kris mendatangi meja Suho dan mendiskusikan sesuatu dengannya. Suho terlihat antusias dan menganggukkan kepalanya sedikit, lalu mengikuti Kris yang menghampiri Baekhyun dan membantunya mengenakan gaun putih tadi.
       Tidak, Chanyeol berpikir, panik, tidak. Sial. Otakku mulai bekerja dengan tidak baik.
            Tepat ketika ia hendak kabur—dengan alibi ‘hendak ke toilet’—Jongin menahannya, wajahnya sulit ditebak; tapi ia mengeluarkan smirk-nya.
       “Mau pergi kemana, Dobi?”
       Perasaan Chanyeol tidak enak. Ia bisa merasakan konspirasi di kelas ini.
       “Hei, Jongin,” Kris berseru dari tempatnya, “kau punya aksesoris untuk peri? Kau tahu; sayap, bando putih, pokoknya semua yang kuminta kemarin?”
       Jongin mengeluarkan sebuah kantong besar dari balik mejanya dan memberikannya secara estafet pada Kris.
       “Jongin,” Chanyeol menarik napas dan membuangnya perlahan, berusaha rileks, “aku. Harus. Ke. Toilet.”
       “Untuk apa? Buang air atau menghindari sesuatu?”
       Chanyeol menelan ludah.
       “Kris, Suho, kalian sudah selesai?”
       Suho menyahut, “sedikit lagi. Ayolah, pakai saja sayap itu, Baek.”
       Setelah itu, seorang Park Chanyeol nyaris kehilangan pikirannya.
       Byun Baekhyun menjelma menjadi seorang peri dengan gaun putih selutut, bando putih, sayap dari kertas mika transparan, dan tongkat peri di tangannya. Dan Kris benar; ia cantik. Mata Chanyeol tidak bisa lepas dari sosok Baekhyun saat ini; ia bahkan tidak ingat bahwa Baekhyun adalah laki-laki. Ia terlalu... Mempesona. Seisi kelas pun sama seperti dirinya; mereka tertawa keras dan memuji kecantikan Baekhyun, yang kini mengelilingi kelas dan berpura-pura bahwa ia adalah seorang peri.
       “Baekhyun,” Suho berusaha berbicara diantara tawanya, “pergilah keluar kelas. Seisi sekolah harus tahu soal peri kelas kita ini.”
       “Jangan!”
       Semua orang mengalihkan perhatian mereka pada Chanyeol, yang langsung menutup mulutnya. Baekhyun menatapnya bingung.
       “Kenapa, Chanyeol?”
       “Karena,” Chanyeol berusaha mencari alasan yang tepat, “kau gila? Bagaimana jika mereka, err, mereka tahu kelas kita berbuat onar lagi karena sedang tidak ada guru?”
       “Oh,” sesaat Chanyeol menghela napas lega, tapi lalu Baekhyun berkata lagi dengan gembira, “baik, menjadi peri di kelas ini saja sudah cukup. Bagaimana kalau menjadi peri seharian? Teman-teman?”
       “Setuju!!” Chanyeol menegang saat semua temannya menyahut antusias. Seharian, pikirnya, seharian dengan melihat Baekhyun dengan gaunnya. Seharian.
       “Wow, lihat, sepertinya Chanyeol bernafsu saat melihat Baekhyun,” Kris tersenyum evil. Chanyeol, berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, dalam hati mengacak rambutnya frustasi, sementara teman-temannya hanya tertawa dan menanggapi perkataan menjurus Kris sebagai lelucon. Ia merasakan sesuatu yang aneh, seperti kupu-kupu, sedang beterbangan di perutnya.
       Dan bagian dibawah perutnya.


-------------------------------------------------------------------------


       “Chanyeol,” Baekhyun mengerutkan keningnya, “ada apa denganmu? Tingkahmu selama seminggu ini benar-benar aneh. Kau sedang sakit?”
       “A-apa?” Chanyeol menjatuhkan ponsel yang ada di genggamannya dan buru-buru mengambilnya kembali, gugup—Park Chanyeol tidak pernah gugup sebelum ini. “Aku tidak apa-apa, Baek. A-aneh bagaimana?”
       Saat ini mereka sedang berada di rumah Chanyeol—di sofa ruang televisi, lebih tepatnya. Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke pantai sore ini. Baekhyun merencanakan wisata ke pantai selama seminggu untuk mengisi liburan musim panas mereka dan Chanyeol setuju—setidaknya sebelum ia tahu bahwa ternyata Baekhyun juga mengajak Kris, Jongin dan Suho dalam liburan ini.
       Ya, mereka satu geng, tapi Chanyeol tetap tidak bisa menerima Teori Konspirasi yang dilancarkan Kris beberapa hari yang lalu.
       “Bagaimana itu tidak bisa disebut ‘aneh’, Dobi?” Sebelah alis Baekhyun terangkat. “Lihat? Kau gugup. Kau terlihat gugup. Atau,” ia tersenyum sedikit, “kau sedang menyukai seseorang? Hm? Cerita saja pada sahabatmu ini.”
       Wow. Telak sekali, batin Chanyeol. “Tidak—tidak juga, barangkali. Maksudku. Entahlah. Mungkin?”
       “Aah, begitu?,” Baekhyun mencolek dagu Chanyeol—dan kupu-kupu kembali mengisi perut Chanyeol, “siapa orangnya? Ayo, ceritakan padaku.”
       “Dia adalah... Seseorang,” Chanyeol berdeham, “aku sudah mengenalnya cukup lama. Ia... Menarik. Ya. Menarik. Dan ramai.”
       Mungkin hanya mata Chanyeol yang kurang beres, atau memang sekilas ada yang berubah dari ekspresi Baekhyun setelah Chanyeol berkata seperti itu.
       “Lalu?,” lagi-lagi perasaan Chanyeol berkata bahwa cengiran yang terpampang pada bibir Baekhyun terlihat dipaksakan, “ceritakan lebih jauh. Siapa orang itu? Apa aku mengenalnya?”
       “... Barangkali.”
       “Ooh, tunggu, tunggu, siapa gadis itu?,” Baekhyun berpikir keras, “Soojung? Atau Ahreum? Oh, oh, aku tahu, pasti Amber!”
       “Tunggu. Apa??” Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya. “Tidak, Baek, bukan mereka, kau tidak mengerti—“
       “Tapi aku hanya mengingat mereka. Memangnya kau dekat dengan siapa lagi—“
       “Baek, dengar,” tangan Chanyeol langsung menyambar bahu Baekhyun dan mengguncangnya sedikit, membuat pemuda yang lebih kecil itu agak terkejut, “ingat kata-kata Ben Ben waktu itu? Soal, err, kenormalan? Aku tidak menyukai orang-orang yang kausebutkan itu karena aku tidak menyukai mereka. Kris benar. Aku tidak normal.”
       “L-lalu,” Baekhyun menunduk, menyembunyikan wajahnya dari lingkup penglihatan Chanyeol, “siapa yang kausukai? Kris?”
       Chanyeol menempelkan telapak tangan ke wajahnya. “Yang benar saja. Mana mungkin aku menyukai si tiang bodoh itu? Lebih baik aku menjadi normal—tapi dia memang menawan, jujur saja,” ia menggelengkan kepalanya, “tapi bukan tipeku. Aku menyukai sahabatku, satu dari duo biang onar kelas IPA.”
       Hening. Baekhyun masih menunduk dan Chanyeol hanya bisa pasrah.
       “Aku tahu ini agak... Aneh,” ia mengakui, “tapi setidaknya kau tahu kalau aku menyukaimu. Aku tidak berharap sebaliknya, aku tahu kau mungkin akan menjauhiku setelah ini, karena, well—“
       Baekhyun memotong perkataan Chanyeol dengan sebuah kecupan kilat.
       “B-Baek??”
       “Idiot,” kata Baekhyun, tangannya meraih wajah Chanyeol, “kau idiot. Jangan berpikir bahwa hanya kau yang tidak normal, Chanyeol. Apa setiap perilakuku kurang jelas? Bahkan Kris saja bisa melihat bahwa aku menyukaimu. Kau benar-benar idiot.”
       “Tapi,” Chanyeol kini merasa bodoh, “bagaimana mungkin kau bisa menyukaiku?”
       “Bagaimana kau bisa menyukaiku, Park Chanyeol?”
       “... Aku tidak tahu. Itu terjadi secara tiba-tiba.”
       “Sama. Kaupikir perasaan suka harus didasari dengan alasan?” Tangan Baekhyun terasa hangat di pipi Chanyeol. “Aku menyukaimu, idiot.”
       “Aku... Juga. Menyukaimu, Byunbaek.”
       “Aku tahu.”
       Kali ini Chanyeol mencium lembut bibir Baekhyun.
       “Hei,” ujar Chanyeol pelan disela ciumannya, “jam berapa sekarang?”
       Baekhyun melirik jam dinding yang ada disana. “Jam 2. Kita akan berangkat jam 4 sore, bukan? Sebaiknya kita kembali bersiap-siap.”
       Tetapi Chanyeol malah mendorong pelan Baekhyun ke sofa, menyandarkan belakang kepalanya pada lengan sofa dan menahannya.
       “Santai saja, kita masih punya banyak waktu. Ngomong-ngomong, kau mungkin belum tahu soal ini, tapi perkataan Kris tentang bernafsu saat kau memakai baju peri waktu itu memang benar.”


--------------------------------------------------------------
       “Selamat,” ejek Kris saat Baekhyun dan Chanyeol berlari ke arahnya, Jongin dan Suho, yang menunggu di depan rumah Jongin. Mereka berdua terlihat berantakan—kau tahu, berantakan secara harfiah.
       Chanyeol, masih terengah, menanggapi, “untuk?”
       “Hubungan kalian.”
       “Apa maksudmu, Ben Ben?”
       “Ekspresi kalian tidak bisa berbohong, idiot,” Jongin tertawa. Chanyeol menyadari seseorang lain yang tidak mereka kenal berdiri di belakang Kris.
       “Hei, Ben Ben,” kata Chanyeol, “siapa itu?”
       “Oh, benar, aku lupa. Zitao,” Kris menarik tangan pemuda yang ada di belakangnya itu dan menggenggamnya, “kenalkan, mereka duo biang onar dari sekolahku. Kalian berdua,” ia berkata pada Chanyeol dan Baekhyun, “ini Zitao. Kekasihku.”
       Baekhyun menunjukkan wajah tidak percaya. Chanyeol terbelalak.
       “Tapi—tapi kupikir kau—“
       “Normal? Ha,” pemuda tinggi blasteran itu tertawa dan melingkarkan lengannya di bahu Zitao, yang tersenyum malu pada Baekhyun dan Chanyeol, “siapa bilang? Menurutmu kenapa aku bertanya waktu itu?”
       “Wow,” Baekhyun menggelengkan kepalanya, “seorang Wu Yifan a.k.a Kris, murid pertukaran pelajar blasteran Chinese-Canadian dengan wajah menawan dan tinggi 190 cm ini, ternyata tidak senormal yang kita bayangkan.”
       “Hei, bagaimana jika kita berangkat sekarang? Kita akan melewatkan sunset jika terus berdiam disini.”
       “Santai, Suho, sebelumnya, aku ingin sedikit menginterogasi pasangan baru ini,” Jongin menatap leher kaus Baekhyun yang tampak seperti habis ditarik dan rambut Chanyeol yang lebih berantakan dari biasanya, “jadi, kalian terlambat gara-gara making out? Eh, aku benar kan, Kris? Intinya, kalian sudah sampai mana?”
       “YAH, DIAM KAU, KIM JONGIN!!!”

?

Log in